Pelantikan PC PMII Kota Banjar, Kader Didorong Jadi Pengawal Kritis Pembangunan Daerah
BANJAR – Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Banjar resmi dilantik pada Selasa (28/7/2026).
Pelantikan tersebut menjadi momentum peneguhan arah gerakan organisasi dengan mengusung tema "Rekonstruksi Gerakan Kader dalam Mengawal Pembangunan Kota Banjar."
Ketua Pelaksana kegiatan, Roufurohim, menegaskan bahwa pelantikan bukan sekadar seremoni pergantian kepengurusan, melainkan momentum menentukan arah perjuangan kader PMII ke depan.
"Pada hari ini bukan hanya pelantikan semata, tetapi hari peneguhan arah, penentuan sikap, dan hari integrasi pergerakan," ujarnya dalam sambutan.
Mengawali pidatonya, Roufurohim membakar semangat para kader dengan seruan, "Sekali bendera dikibarkan hentikan ratapan dan tangisan, mundur satu langkah adalah bentuk pengkhianatan. Salam Pergerakan."
Menurutnya, tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut gerakan mahasiswa tidak hanya mengandalkan semangat, tetapi juga meningkatkan kapasitas, profesionalitas, serta keberpihakan kepada kepentingan umat dan bangsa.
Ia menilai pembangunan Kota Banjar tidak cukup diukur dari berdirinya infrastruktur maupun capaian statistik semata, melainkan dari sejauh mana kebijakan mampu menjawab kebutuhan masyarakat, menghadirkan keadilan, membuka ruang partisipasi publik, dan meningkatkan kualitas hidup secara merata.
Dalam konteks tersebut, kader PMII dinilai memiliki posisi strategis sebagai kekuatan intelektual yang mampu mengawal arah pembangunan agar tetap berpihak kepada kepentingan masyarakat.
"Rekonstruksi gerakan kader berarti mengembalikan orientasi kaderisasi pada tiga fungsi utama, yakni berpikir kritis, bergerak solutif, dan berani mengawal kebijakan secara objektif," katanya.
Roufurohim juga menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi Kota Banjar, mulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ekonomi lokal, pelayanan publik, hingga tata kelola pemerintahan yang dinilai perlu semakin transparan dan akuntabel.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan.
Karena itu, ia mengajak kader PMII mengubah pola gerakan dari budaya reaktif menjadi budaya produktif. Loyalitas kader, katanya, harus berpijak pada nilai kebenaran, kepentingan masyarakat, dan kemajuan daerah, bukan kepada individu maupun kelompok tertentu.
Ia menegaskan bahwa PMII harus mampu menjadi mitra strategis pemerintah sekaligus pengawas yang konstruktif melalui budaya intelektual, tradisi riset, diskusi, dan pengabdian kepada masyarakat.
"Kader PMII harus hadir sebagai kekuatan intelektual yang mengawal kebijakan dengan data, mengkritisi dengan argumentasi, dan menawarkan solusi dengan integritas," tegasnya.
Menutup sambutannya, Roufurohim berharap pelantikan tersebut melahirkan gagasan, komitmen, dan gerakan nyata dalam mengawal pembangunan Kota Banjar agar semakin inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan. Menurutnya, pembangunan yang baik bukanlah pembangunan yang sepi kritik, melainkan pembangunan yang terbuka terhadap koreksi demi kemajuan bersama.
Komentar Anda :