⋅ Galeri Foto ⋅ Advertorial
   
 
Jelang Muktamar, Abdul Hamid Minta Pejabat Ngak Ikut Campur Urusan Muktamar NU
Rabu, 10-11-2021 - 05:53:07 WIB
TERKAIT:
   
 

 


JAKARTA--- Tokoh muda NU dari Indonesia Timur Abdul Hamid Rahayaan mengingatkan kepada pihak-pihak luar tidak mencampuri urusan pelaksanaan Muktamar NU yang akan digelar pada 23-25 Desember mendatang di Provinsi Lampung.


Seperti, diduga ada pihak luar yang sengaja melakukan intervensi untuk memenangkan salah satu calon Ketua Umum PBNU, dugaan keterlibatan pemerintah tersebut terendus lewat aksi oknum yang mengatasnamakan dari Kementerian Agama yang dengan serempak memborong seluruh hotel disekitar arena Muktamar.


"Tentu upaya tersebut merupakan strategi untuk memenangkan salah satu calon Ketua Umum PBNU,” kata Abdul, Selasa (9/11), kepada pers di Jakarta.


Dikatakannya, jika memang cara itu dilakukan oleh pejabat negara, tentu kepala negara harus menjelaskan peristiwa ini kepada publik, apakah dilakukan atas perintahnya, ataukah datang dari inisiatif pribadi Menteri Agama.


“Kalau hal tersebut menjadi inisiatif pribadi staf dan Menteri Agama, maka tentu hal ini sangat memalukan, sikap Menteri Agama dan bawahanya yang memborong kamar hotel untuk kepentingan Muktamar merupakan bentuk pelanggaran etik dan moral,” ujarnya.
Untuk itu, lanjutnya, patut dipertanyakan dari mana anggaran tersebut bersumber, apakah dari Kementrian Agama atau yang lainnya, harus diperjelas maksud dan tujuan Kementerian Agama hingga ikut campur dalam urusan Muktamar NU. "Inilah yang dimaksud dengan intervensi pemerintah tehadap urusan internal Nahdlatul Ulama,” ungkap Abdul.


Abdul pun menghimbau kapada seluruh ulama, para kiyai, Ketua Wilayah dan Ketua Cabang NU di seluruh Indonesia agar waspada karena ada indikasi kuat adanya upaya untuk menguasai NU dengan cara kotor atau menghalalkan segala cara.


“Saya minta kepada PBNU untuk mengambil langkah jika memang benar terjadi yang demikian, alangkah baiknya Muktamar ditunda pelaksanaanya sampai Maret 2022 agar tidak memberikan ruang kepada mereka yang ingin menang dengan cara kotor. Atau muktamar tetap dilaksanakan dengan catatan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU dipilih oleh AHWA untuk menghindari permainan kotor pada saat Muktamar nanti,” tandasnya.
Apalagi, saat ini pandemi masih belum berahir, tentu harus menjadi pertimbangan sendiri. Dan jika praktek kotor dibiarkan dalam pelaksanaan muktamar maka akan merusak perjalanan NU. Kedepan warga NU tidak percaya dengan kepemimpinan yang didapatkan dengan cara curang dan kotor, akan muncul pengurus NU tandingan atau dilakukan Muktamar luar biasa bahkan bisa muncul pengurus NU luar Jawa.


“Untuk menghindari perpecahan yang akan terjadi, maka para ulama dan kiyai segera mengambil langkah penyelamatan NU sehingga menghindari kehancuran pada tubuh NU," katanya.


Abdul berharap, Muktamar NU adem ayem, dan khusus meminta kepada presiden agar menginstrusikan kepada seluruh jajaranya untuk tidak ikut-ikutan mencampuri urusan internal NU, dan terkhusus kepada Pak Luhut Binsar Panjaitan agar lebih fokus menyelesaikan kasus PCR daripada mencampuri urusan Muktamar NU. “Nama anda saat ini cukup populer dalam rangka memenangkan salah satu kandidat calon Ketua Umum PBNU, bila hal ini benar maka anda harus siap berhadapan dengan seluruh aktivis dan warga NU karena anda dianggap perusak NU,” tutup Hamid. (dade)




 
Berita Lainnya :
  • Jelang Muktamar, Abdul Hamid Minta Pejabat Ngak Ikut Campur Urusan Muktamar NU
  •  
    Komentar Anda :

     
     
    Sinergi Pemerintah Daerah dan Perbankan Syariah, Bupati Kampar Hadiri RUPS-LB BRK Syariah 2026
     
     

     

    Quick Links

     
    + Home
    + Redaksi
    + Disclaimer
    + Pedoman Berita Siber
    + Tentang Kami
    + Info Iklan
     

    Kanal

     
    + Nasional
    + Sumatera
    + Jabar
    + Riau
    + Kampar
    + Infrastruktur
     
     

     

     
    + Ekbis
    + Cityzen
    + Siaran Pers
    + Indeks Berita
     
     
    © 2020-2026 HKindonesia.com - Harian Kita Indonesia - Membangun untuk Indonesia, all rights reserved