TAMAN UMKM & PUSAT SENI KAMPAR: Gagasan Cerdas dari DKK dan LSM PENJARA untuk Sinergi Ekonomi dan Budaya Lokal
Bangkinang, 19 Oktober 2025 — Sebuah gagasan segar dan visioner muncul dari perbincangan hangat di sebuah kedai kopi di jantung Kota Bangkinang. Dua sosok penggerak kreatif Kampar, David Hendra, S.Pi, MM, Ketua Dewan Kesenian Kampar (DKK), dan Budi Hendra, SE, Ketua LSM PENJARA DPC Kampar, bersepakat untuk mendorong lahirnya sebuah ruang publik baru: “Taman UMKM Kampar & Pusat Seni Kampar.”
Bukan sekadar taman biasa, gagasan ini menempatkan Taman Kota Bangkinang sebagai pusat ekonomi kreatif dan kebudayaan lokal — tempat UMKM, seniman, dan masyarakat bertemu dalam satu harmoni: ekonomi tumbuh, seni hidup, budaya lestari.
Ruang Hidup bagi 21 Kecamatan
Dalam konsep yang digagas, setiap dari 21 kecamatan di Kabupaten Kampar akan memiliki ruang representatif untuk menampilkan produk unggulan UMKM mereka. Stand-stand tematik akan diatur secara bergilir, lengkap dengan desain, seragam, dan dekorasi sesuai momen nasional maupun daerah — seperti HUT Kampar, HUT TNI, Hari Kemerdekaan, dan hari besar keagamaan.
Pendekatan kreatif ini bukan hanya untuk mempercantik tampilan taman, tetapi juga membangun semangat kebangsaan, kebanggaan daerah, dan solidaritas masyarakat. Setiap sudut taman akan menjadi simbol hidupnya kreativitas Kampar.
Panggung Seni Rakyat & Galeri Karya Kampar
Tak berhenti di sektor UMKM, taman ini juga dirancang sebagai “panggung ekspresi tanpa batas” bagi seniman Kampar. Setiap pekan, masyarakat bisa menikmati pertunjukan musik, tari, teater rakyat, seni rupa, stand up comedy berbahasa Ocu, dan literasi lokal.
Rencana juga mencakup pendirian “Galeri Karya Kampar”, tempat anak-anak muda memamerkan sekaligus menjual hasil karya mereka. Dari lukisan hingga kerajinan tangan, galeri ini akan menjadi etalase kreativitas generasi Kampar.
Bangun Mandiri Lewat CSR
Ketua LSM PENJARA, Budi Hendra, SE, menegaskan pentingnya kemandirian dalam dunia seni dan UMKM. Ia mendorong agar fasilitas seperti panggung permanen, sound system, lighting, dan alat musik dibangun dari dana CSR perusahaan-perusahaan di Kampar.
“Kita harus punya fasilitas sendiri. Jangan lagi setiap kali ada acara harus sewa ke luar daerah. Ini bagian dari kedaulatan seni dan ekonomi kita,” ujar Budi dengan tegas.
Sementara itu, David Hendra menambahkan, setiap perusahaan yang beroperasi di kecamatan Kampar bisa berkontribusi membangun satu stand UMKM.
Langkah ini dinilai strategis karena tidak hanya memperkuat ekonomi masyarakat, tetapi juga menghidupkan wajah baru Kota Bangkinang sebagai kawasan ekonomi kreatif yang berbudaya.
Sinergi untuk Kampar Hebat
Kolaborasi antara Dewan Kesenian Kampar (DKK) dan LSM PENJARA DPC Kampar ini menjadi momentum penting — sinergi antara ekonomi, seni, dan budaya yang berpijak pada nilai lokal dan semangat gotong royong.
Keduanya berharap, dukungan dari Pemerintah Kabupaten Kampar, dunia usaha, dan masyarakat dapat segera terwujud, agar “Taman UMKM Kampar & Pusat Seni Kampar” menjadi ikon baru kebangkitan ekonomi kreatif dan budaya lokal.
“Inilah wujud nyata semangat Kampar Mandiri, Berdaya Saing, dan Berbudaya,” tutup David.
Taman UMKM & Pusat Seni Kampar bukan sekadar ruang fisik, melainkan simbol kebangkitan ekonomi dan seni rakyat Kampar.
Dari kedai kopi Bangkinang, lahirlah ide besar yang bisa mengubah wajah Kampar — lebih kreatif, lebih sejahtera, dan lebih membanggakan.
Komentar Anda :